Fakta Tentang Lahan Gambut di Indonesia

Written by Eli Nur Nirmala Sari on .

Luas gambut di Indonesia

Data terkini mengenai luas lahan gambut di Indonesia terdapat di Kementerian Pertanian (2011), pada publikasinya atas penelitian luasan lahan gambut, yaitu 14,905 juta hektar. Akan tetapi, beberapa sumber lain memberikan data yang berbeda mengenai luasan lahan gambut, misalnya luas lahan gambut Indonesia menurut Puslittanak (1981) adalah 26,5 juta hektar, sedangkan menurut Rieley dkk. (1997) dan Radjagukguk (1997), luasan gambut di Indonesia adalah 20,072 juta ha. Sementara itu, Dwiyono dan Rachman (1996), Subagyo (1998), Wibowo dan Suyatno (1998) dan Wetlands International (2004) menyebutkan bahwa luasan lahan gambut di Indonesia adalah 20,6 juta hektar. Dari data-data tersebut, dapat diketahui bahwa sejak tahun 1981 sampai tahun 2004 terjadi pengurangan luasan lahan gambut sekitar 6 juta hektar.

Klik untuk memperbesar

Laju kerusakan dan degradasi lahan gambut di Indonesia

Dalam kurun waktu 10 tahun, yaitu sejak tahun 2000 hingga tahun 2010, lahan gambut terdegradasi dengan cepat, yaitu dengan total laju degradasi lahan gambut 2,2 juta hektar. Menurut data dari Miettinen dkk. (2011), dimana degradasi lahan gambut terbesar terjadi di Sumatera, dengan laju degradasi sebesar 1,3 juta ha; Kalimantan memiliki laju degradasi lahan gambut terbesar kedua, yaitu 1 juta ha; dan Papua sebesar 366,000 ha. Badan Planologi Kehutanan (2005) menyebutkan bahwa laju deforestasi pada kawasan hutan dan luar kawasan hutan dari tahun 1997 sampai 2000 adalah 2,83 juta hektar, dan hutan gambut termasuk di dalamnya.

Sifat gambut yang unik

Gambut terbentuk dari timbunan bahan organik yang sebagian lapuk, menumpuk dalam jangka waktu yang sangat lama, dan selalu dalam keadaan basah. Lahan gambut menyimpan karbon secara signifikan, yaitu 20-35% dari total karbon yang tersimpan di permukaan bumi. Lahan gambut Indonesia memiliki kapasitas sebagai penyimpan karbon sebesar 3-6 kali lebih tinggi daripada lahan gambut di daerah yang beriklim sedang, menyimpan setidaknya 550 Gigaton karbon yang setara dengan seluruh biomassa teresrial lain (hutan, rerumputan dan belukar) atau dua kali jumlah seluruh karbon yang tersimpan pada hutan di seluruh dunia.

Penyebab terbesar terjadinya kerusakan lahan gambut

Penyebab degradasi lahan gambut terbesar di Indonesia adalah kebakaran lahan gambut dan drainase akibat konversi hutan gambut untuk pemanfaatan lahan lain. Menurut Bappenas (1998), sekitar 1,5 juta ha lahan gambut di Indonesia terbakar selama musim kering tahun 1997 dan 1998. Parish (2002) melaporkan, bahwa kebakaran di Kalimantan pada musim kering tahun 1982 dan 1983 telah membakar 0,5 juta ha lahan gambut. Selain tanaman dan sisa-sisa tanaman yang ada di permukaan tanah, berbagai material seperti humus dan gambut juga terbakar, dan mengakibatkan hilangnya seresah dan lapisan atas gambut (Jaya et al., 2000).

Berapa emisi yang dihasilkan dari kebakaran di lahan gambut?

Dibandingkan dengan emiter pada sektor lain, lahan gambut memberikan kontribusi emisi yang terbesar (DNPI, 2011). Sebuah penelitian yang dilakukan WWF menyimpulkan bahwa kebakaran lahan dan hutan yang terjadi pada tahun 1997-1998 telah membakar sekitar 10 juta hektar lahan dan melepaskan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 810-2.563 Megaton karbon (C) ke atmosfer (Page et al., 2002), atau setara dengan 13-40% total emisi karbon dunia yang dihasilkan dari bahan bakar fosil per tahunnya. Sebesar 80% kebakaran besar tersebut terjadi di lahan gambut (WWF, 2008). Sementara itu, ADB (1999) memperkirakan bahwa emisi karbon akibat kebakaran lahan gambut mencapai 75% dari total emisi karbon akibat kebakaran lahan tersebut. Dengan demikian, kebakaran lahan tersebut telah menambah kontribusi terhadap pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim.

Lembar Fakta Metodologi Pemetaan Lahan Gambut